Pemerintah Selidiki Dugaan Praktik Perdagangan Manusia di Kapal STS-50

Pemerintah Selidiki Dugaan Praktik Perdagangan Manusia di Kapal STS-50

KKPNews, Jakarta – Pemerintah melalui tim gabungan yang terdiri dari TNI AL, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan penyidik POLRI di bawah koordinasi Satgas 115 telah melakukan pemeriksaan terhadap 20 orang ABK STS-50 berkebangsaan Indonesia. Dibantu oleh International Organization of Migration (IOM), tim gabungan mengidentifikasi dugaan perdagangan manusia dan perbudakan terhadap ABK Indonesia. Tim gabungan juga mendapatkan bantuan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memeriksa kemungkinan kapal membawa narkotika.

Melalui wawancara, diketahui ABK STS-50 berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan pengakuan para ABK, mereka tidak mengetahui bahwa kapal STS-50 adalah kapal ikan asing ilegal. Mereka juga mengaku mendapatkan perlakuan yang masih layak di atas kapal, namun mendapatkan perlakuan tidak adil oleh agen penyalur dengan nama PT GSJ.

Agen penyalur ini diduga mengetahui sejarah operasi ilegal kapal STS-50. Sebelum para ABK diberangkatkan, mereka diwajibkan menandatangani Perjanjian Kerja Laut (PKL) yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Inggris. Namun mereka tidak diizinkan membaca seutuhnya isi dari PKL tersebut dan diminta untuk segera menandatanganinya. Selain itu, PT GSJ tidak memberikan informasi secara benar kepada para ABK karena sebelumnya dijanjikan akan dikirim ke kapal Korea, namun pada kenyataannya dikirim ke kapal tidak berkebangsaan (stateless vessel).

20 orang ABK STS-50 tersebut diduga merupakan korban perdagangan manusia. Mereka dikirimkan oleh agen penyalur melalui 3 kelompok. Kelompok pertama dikirim pada 25 Mei 2017 sebanyak 4 orang diberangkatkan ke Vietnam. Disusul kelompok kedua pada 5 Agustus 2017 yang memberangkatkan 10 orang ke Vietnam. Terakhir, kelompok ketiga yang berjumlah 6 orang diberangkatkan ke Tiongkok pada 12 Desember 2017.

Hal ini diungkapkan dalam konferensi pers yang dipimpin langsung Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Wakil Kepala Staf TNI AL Achmad Taufiqoerrochman, Plt. Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Nilanto Perbowo, Koordinator Staf Khusus Satgas 115 Mas Achmad Santosa, dan Direktur Operasi Satgas 115 Wahyudi HD, di Kantor KKP, Jakarta, Rabu (18/4).

Sebelumnya saat diwawancarai, para ABK menyampaikan bahwa sewaktu tiba di Lotus Port, Vietnam, mereka langsung dinaikan ke atas Kapal AYDA (nama STS-50 sebelumnya) dan menemukan palka kapal sudah berisi ikan dengan estimasi volume sebesar 250 ton. Mereka melakukan bongkar muat untuk dikirim ke buyer. Namun, ikan-ikan tersebut dikembalikan oleh buyer dengan dugaan ikan tidak dilengkapi oleh sertifikat atau izin penangkapan.

Mereka juga mengungkapkan bahwa kapal STS-50 ingin melakukan operasi penangkapan di Antartika dan telah melewati  berbagai negara sepanjang perjalanannya. Di awali di Vietnam, kapal ini kemudian berlayar ke Filipina, Tiongkok, Korea, Rusia, Malaysia, Madagaskar, Mozambik, dan Indonesia.(SAR/AFN)

About the author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.