Pemerintah Selidiki Dugaan Pencurian Ikan Oleh Jaringan Perusahaan di General Santos

Dok. Humas KKP

KKPNews, Jakarta – Hasil penyelidikan yang dilakukan Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan Secara Ilegal atau Satgas 115 mensinyalir adanya dugaan pencurian ikan yang dilakukan oleh jaringan perusahaan di General Santos, Filipina. Hal tersebut diutarakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam konferensi pers yang dilaksanakan Selasa (21/8) di Jakarta.

Menteri Susi yang juga menjabat sebagai Komandan Satgas 115, telah memberikan arahan kepada jajaran penegak hukum di wilayah Sulawesi Utara untuk fokus menyelesaikan modus pencurian ikan di wilayah Sulawesi Utara.

“Saya sebagai Dansatgas 115 bersama Wakasal sebagai Kalakhar telah memberikan briefing atau arahan kepada Kapolda Sulut, Danlantamal Sulawesi, Bakamla, Kejaksaan dan PSDKP untuk secara sungguh – sungguh kita memerangi berbagai modus pencurian ikan di wilayah Sulut yang dibawa ke negara Filipina (Gensan),” ujar Menteri Susi.

Menurutnya, aktivitas illegal fishing yang dilakukan oleh perusahaan Filipina masih terus terjadi. Hal ini dikarenakan kebutuhan pasokan ikan untuk pelabuhan perikanan selatan Filipina, khususnya General Santos City Port.

Berdasarkan penelusuran Satgas 115 di Pelabuhan General Santos, terdapat beberapa kapal yang menggunakan nama Indonesia berlabuh di General Santos, antara lain Tri Rezeki 09, Tri Rezeki 08, Makmur 10 dan Seagull 508.

“Modus penggunaan nama Indonesia oleh kapal asing sudah sering terjadi, temuan ini membuktikan praktik itu masih terus berlangsung,” jelas Menteri Susi.

Selain itu, lanjut Menteri Susi, ditemukan juga bahwa beberapa kapal Filipina terdaftar di The Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC), namun beroperasi di Indonesia. Hal ini antara lain ditemukan dari modus kapal angkut Louie 18 milik SAN ANDREAS FISHING IND INC yang berbasis di General Santos.

“Kapal ini telah diputus inkracht dengan putusan dirampas untuk negara. Dalam menjalankan aktivitasnya juga dibantu dengan beberapa kapal tangkap yang juga telah kita proses hukum,” tuturnya.

Berdasarkan penelusuran, San Andreas ini merupakan perusahaan besar dengan 83 armada kapal perikanan yang berlokasi di General Santos.

Wilayah “fishing ground” kapal filipina yang terdaftar di WCPFC umumnya berada di wilayah ZEE Indonesia yang berbatasan dengan Palau. Wilayah ini dipilih karena minim pengawasan, sebagaimana disampaikan pelaku illegal fishing Fiilipina di General Santos.

Modus lainnya adalah penggunaan pakura (kapal kecil). ABK kebangsaan Filipina yang bermukim di sekitar pulau pulau sekitar Sangir dan Talaud, mendapatkan pakura dari perusahaan Filipina, lalu menangkap ikan di Indonesia yang kemudian di alihmuat-kan (transhipment) ditengah laut pada kapal angkut Filipina.

“Saya meminta agar modus pencurian ikan oleh asing dapat segera diatasi dalam 1 bulan kedepan. Saya akan kembali mengumpulkan para apgakum yang kemarin hadir di bulan September yang akan datang untuk memastikan penyelesaiannya”, tutupnya.(MD)

About the author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.