Menteri Susi : “ Gensan bukan urusan kita, yang penting tidak mencuri ikan di Indonesia”

Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan, sering menyebutkan kota Gensan ketika berbicara  tentang pemberantasan pencurian ikan. Gensan adalah kota di Pulau Mindanao yang sering disebut ibukota ikan tuna di Filipina.

Lokasi Gensan memang strategis, dekat dengan lokasi yang kaya ikan di Teluk Moro, Laut Sulu, Mindanao, dan Sulawesi. Filipina saat ini didapuk sebagai produsen terbesar tuna kalengan kedua di Asia setelah Thailand. Mayoritas tuna dari Filipina dilabuhkan dan diolah di Gensan.

Terhitung sejak 2008 hingga 2014, hampir 89 persen dari total 1.012.488 metrik ton ikan di Gensan adalah jenis ikan tuna. Namun semenjak Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan produksi tuna di Gensan menurun.

Penurunan hasil tangkapan tuna di Gensan diawali ketika Menteri Susi meneken kebijakan larangan transhipment (alih muatan) di tengah laut dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 57/2014, yang berlaku 12 November. Di sisi lain, Susi mulai menggalakkan perang terhadap pencurian ikan. Ia menenggelamkan beberapa kapal berbendera Filipina di antara kapal asing lain yang masuk perairan Indonesia.

Setahun usai aturan Menteri Susi berlaku, hasil tangkapan tuna di Gensan turun drastis. Penurunan ini bisa ditilik dari data ekspor tuna Kementerian Perdagangan Filipina. Data itu mencatat nilai ekspor tuna Filipina pada 2013 mencapai 52 juta dolar AS. Pada 2014 naik 43 persen menjadi 90,7 juta dolar AS. Namun, setelah kebijakan Menteri Susi, nilai ekspor itu anjlok drastis hingga -150 persen pada 2015 menjadi 36,3 juta dolar AS. Setahun berikutnya turun lagi -53 persen menjadi 23,7 juta dolar AS.

Menurut otoritas lembaga budidaya perikanan Filipina (PFDA), penurunan tajam ikan tuna di Gensan terjadi pada fase 2014-2015. Pendapatan metrik ton ikan cakalang anjlok 76 persen dari 50,417 metrik ton pada 2015 menjadi 28,658 metrik ton pada 2015. Begitupun ikan tuna sirip kuning yang diperuntukkan pasar domestik, turun -43 persen dari 8.289 metrik ton pada 2014 menjadi 5.794 metrik ton pada 2015.

Imbas paling drastis adalah volume ikan tuna sirip kuning grade A. Inilah ikan pilihan yang biasa diekspor ke Uni Eropa atau Jepang. Harga per kilonya bisa mencapai 400 peso atau Rp120 ribu. Berat satu ekor ikan tuna sirip bisa mencapai 100-300 kilogram. Pada 2014, ikan sirip kuning kelas A yang diolah di Gensan mencapai 3.279 metrik ton, tetapi angka ini anjlok hingga -77 persen menjadi 1.858 metrik ton pada 2015.

Usai anjlok pada 2015, statistik penangkapan tuna di Gensan memang relatif kembali naik pada 2016. Hasil ikan tuna sirip kuning kembali naik menjadi 8.146 metrik ton. Begitupun ikan tuna sirip kuning untuk ekspor yang mencapai 2.779 metrik ton. Angka-angka ini tak berbeda jauh ketika 2014, sebelum krisis terjadi. Para nelayan di Gensan telah menemukan tempat eksploitasi laut baru yaitu di laut lepaas Davao Oriental dan bukan lagi di perairan Indonesia.

Menurut Menteri Susi apa yang terjadi di Gensan bukan urusan kita yang paling penting adalah nelayan Filipina tidak mencuri ikan di wilayah Indonesia.

(sumber : tirto.id)

About the author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.