Lewat Kasus Silver Sea 2, KKP Kampanyekan Slogan ‘Illegal Fishing No More’

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat memberikan keterangan pers di Widya Candra V, Jakarta Selatan. Dok. Humas KKP/Regina Safri

KKPNews, Jakarta – Kemenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan di Pengadilan Negeri Sabang dalam kasus Kapal Thailand Silver Sea 2 yang diputuskan pada Kamis (19/10), telah menjadi bukti kemenangan dan kedaulatan negara dalam mempertahankan kekayaan sumber daya alamnya. Hal ini sekaligus mengukuhkan kekuatan negara dalam memberantas illegal fishing. 

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, kelak ia menginginkan kapal-kapal pelaku illegal fishing yang tertangkap dipamerkan sebagai museum berjalan sebagai sarana edukasi dan kampanye publik dengan slogan ‘Illegal Fishing No More’. Kapal-kapal dari berbagai negara pelaku illegal fishing akan dipertontonkan kepada publik untuk membuka mata masyarakat dan pemerintah serta mengingatkan mereka bagaimana kapal-kapal besar itu dulu mengeruk dan mencuri sumberdaya ikan Indonesia.

Berbagai upaya juga terus dilakukan pemerintah Indonesia untuk memerangi praktik illegal fishing, salah satunya mencari dukungan dari dunia internasional. “Indonesia saat ini sedang memperjuangkan hak hukum atas laut (Ocean Right) dan kejahatan perikanan sebagai transnational organized crime (TOC) di forum United Nations, sehingga kita bisa mengejar kemana pun mereka (kapal pencuri ikan) pergi,” tambah Menteri Susi saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Jumat (20/10).

Dalam pemberantasan illegal fishing, Indonesia telah memanfaatkan seluruh celah termasuk celah scientific. Dalam proses penyidikan kapal Silver Sea 2 misalnya, KKP menggunakan metode pemeriksaan Genetika Ikan untuk mengidentifikasi asal usul ikan campuran yang berada di dalam palkah Silver Sea 2. Berdasarkan hasil uji DNA, ditemukan fakta bahwa ikan campuran yang berada di dalam palkah Silver Sea 2 adalah 100% identik dengan sampel ikan hasil tangkapan, yang salah satunya berasal dari coldstorage milik PT Benjina Pusaka Resources (PT PBR). Hasil uji DNA juga menyebutkan bahwa ikan campuran berasal dari Laut Arafura, Indonesia yang merupakan wilayah operasi PT PBR.

Menteri Susi menyebut, hal terpenting bukanlah perkara Indonesia memenangkan peradilan dan kemudian memperoleh pemasukan dari denda atau hasil rampasan kapal. Menurutnya, kehormatan dan kewibawaan Indonesia sebagai negara berdaulat yang tak bisa sembarangan dimasuki asing jauh lebih penting.

“Kehormatan atas tegaknya hukum di negeri ini, itu saya rasa luar biasa nilainya. Itu yang akan menjadi kebanggaan dan legacy sebuah negara yang merdeka. Kita tidak main-main, kita tidak bisa diremehkan. More than other value adalah kedaulatan kita sebagai bangsa. Punya kehormatan, disegani, dan kita bisa menang melawan pelaku kejahatan terorganisir,” tandasnya. (AFN)

About the author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.