KONFERENSI PERS MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN SELAKU KOMANDAN SATGAS 115 MENGENAI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SABANG TERHADAP MV SILVER SEA 2

Dok. Satgas 115

Jakarta –  Jumat (20/10) konfrensi pers MKP selaku Komandan Satgas 115 di rumah dinas MKP, Jakarta Selatan. Konferensi pers ini terkait putusan Pengadilan Negeri Sabang terhadap kasus MV. Silver Sea 2. Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Sabang Nomor 21/pidsus/2017/PN SAB negara telah dimenangkan pada kasus Silver Sea 2. Nahkoda kapal Silver Sea 2 Yotin Kuarabiab (Warga Negara Thailand) yang bekerja sebagai Nakhoda Kapal Silver Sea 2 terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 100 jo. Pasal 7 ayat (2) huruf e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perikanan.

Terdakwa dijatuhi pidana denda Rp250.000.000 (dua ratus lima puluh juta rupiah) subsider 6 (enam) bulan kurungan, dokumen – dokumen, kapal ikan Silver Sea 2 dan ikan campuran sebanyak 1.930 (seribu sembilan ratus tiga puluh) MT yang sudah dilelang berdasarkan Surat Penetapan Persetujuan Lelang dari Pengadilan Negeri Sabang Nomor: 01/I.P.L/2016/PN-sab tanggal 24 Februari 2016 senilai Rp20.579.970.000 (dua puluh milyar lima ratus tujuh puluh sembilan juta sembilan ratus tujuh puluh ribu rupiah) dirampas untuk negara.

Kapal Silver Sea 2 merupakan kapal pengangkut ikan berbendera Thailand dengan ukuran 2.285 GT yang ditangkap oleh TNI Angkatan Laut pada 12 Agustus 2015 di perairan Sabang, Aceh atas dasar pelanggaran antara lain mematikan Automatic Identification System (AIS) dan Vessel Monitoring System (VMS).

Kronologi Penangkapan

Tanggal 27 JULI 2015

Digital globe merilis hasil pantauan satelit (satellite imagery) yang menunjukkan bahwa pada tanggal 14 Juli 2015, terjadi aktivitas transhipment kapal MV. Silver Sea 2 (SS2), kapal berkebangsaan Thailand seberat 2.285 GT dengan 2 (dua) kapal penangkap ikan yang diduga berdasarkan analisis kesamaan bentuk dan ukuran merupakan kapal milik PT. Pusaka Benjina Resources.

Maritime Border Command (MBC) Australia melakukan pantauan udara (airborne surveillance) di Arafura PNG. Pada pukul 07.57 AM, MBC berhasil menangkap aktivitas transhipment SS2 dengan 3 (tiga) kapal perikanan yang diduga kuat kapal perikanan Pusaka Benjina Resources karena pada bagian belakang kapal terdapat tulisan “JAKARTA”. Kapal Pusaka Benjina Resources meggunakan nama “JAKARTA” bagian belakang kapal. Untuk menghindari pantauan pengawas,nama kapal, tanda selar kapal ditutup.

Berdasarkan hasil Analisis dan Evaluasi Kapal Perikanan yang Pembangunannya dilakukan di Luar Negeri, SS2 teridentifikasi melakukan pelanggaran tindak pidana perikanan dan tindak pidana lainnya

Tanggal 29 JULI 2015

Kapal tersebut terpantau memasuki WPP NRI 718 Laut Arafura. Setelah memasuki Indonesia, pada tanggal 31 Juli,1 dan 2 Agustus 2015 AIS kapal dalam kondisi mati sampai akhirnya terpantau kembali pada tanggal 3 Agustus di selatan Timur Leste.

Tanggal 30 JULI 2015

Menteri Kelautan dan Perikanan RI mengirimkan surat kepada Kepala Staf Angkatan Laut RI (KSAL)  yang berisi permintaan penangkapan SS2.

Tanggal 31 JULI-12 AGUSTUS 2015

KSAL memerintahkan Pangarmabar untuk memeriksa dan menangkap SS2.

Pangarmabar sempat kesulitan melakukan penangkapan karena SS2 mematikan AIS pada waktu-waktu tertentu dan berlayar melalui jalur yang tidak biasa dilalui SS2, lebih jauh sekitar 2000 NM.

Tanggal 12 AGUSTUS 2015

KRI TEUKU UMAR-385 berhasil memeriksa dan menangkap SS2 di perairan Sabang, Aceh. Guna keperluan pemeriksaan yang lebih intensif, SS2 di proses hukum lebih lanjut di Pelabuhan Sabang.

Pada kapal terdapat 18 orang Nahkoda dan ABK, seluruhnya berkebangsaan Thailand.

Pada palka ikan ditemukan ikan campuran sebanyak 1930 MT.

Tanggal 12 AGUSTUS 2015

Badan Keamanan Laut (BAKAMLA) mengeluarkan hasil pantauan anomali pergerakan kapal SS2. Kapal SS2 mematikan AIS selama periode 12-29 Juli 2015 saat terpantau di sekitar Dogleg PNG. Pada waktu yang sama terdapat 4 kapal angkut eskpor affiliasi Pusaka Benjina Resources juga berada pada lokasi yang sama dan sama-sama mematikan AIS.

Tanggal 19 AGUSTUS 2015

Satgas Gahtas IUUF bertemu dengan Duta Besar Papua New Guinea untuk Indonesia, H.E. Commodore Peter Ilau di Kedutaan Besar Papua New Guinea untuk Indonesia, Jakarta.

H.E. Commodore Peter Ilau menyatakan bahwa transhipment di tengah laut dilarang menurut Fisheries Act 2015, Papua New Guinea sehingga perbuatan SS2 tersebut melanggar hukum Papua New Guinea.

H.E. Commodore Peter Ilau sepakat membentuk joint investigation penanganan kasus SS2.

Satgas Gahtas IUUF bertemu dengan Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. Berdasarkan adanya pelanggaran AIS dan dugaan pemalsuan dokumen pelayaran, Kementerian Perhubungan menyiapkan maritime inspector untuk melakukan detil inspection terhadap kapal SS2. Menteri Kelautan dan Perikanan juga telah mengirimkan surat kepada Menteri Perhubungan untuk mendukung pemeriksaan tersebut.

Tanggal 20 AGUSTUS 2015

LANAL SABANG dan PPNS PSDKP melakukan serah terima penangan kasus SS2 untuk diproses hukum lebih lanjut.

Dalam proses penyidikan, KKP telah menggunakan metode pemeriksaan Genetika Ikan untuk mengidentifikasi asal usul ikan campuran yang berada di dalam palkah Silver Sea 2. Berdasarkan hasil uji DNA, ditemukan fakta bahwa ikan yang berada di dalam palkah Silver Sea 2 adalah 100% identik dengan ikan hasil tangkapan kapal milik PT Benjina Pusaka Resources di perairan Arafura Indonesia. PT Benjina Pusaka Resurces merupakan perusahaan penanaman modal asing yang izinnnya telah dicabut oleh KKP dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) karena melakukan tindak pidana perdagangan orang.

Menteri Kelautan dan Perikanan selaku Komandan satgas 115, “Kemenangan atas kasus Silver Sea 2 ini adalah sebagai bentuk keseriusan Satgas 115 dalam memberantas Illegal Fishing. Dalam kasus Silver Sea 2 ini, negara telah dimenangkan dalam perang melawan Illegal Fishing

About the author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.