IFFAI 2, Tingkatkan Keterampilan Hakim dan Jaksa Tangani Kejahatan Perikanan

Pembukaan penyelenggaraan International FishFORCE Academy of Indonesia (IFFAI) kedua di Gedung Mina Bahari IV, Kantor KKP, Jakarta, Senin (1112). Dok. Humas KKPRegina Safri

KKPNews, Jakarta – Seiring dengan gencarnya pemberantasan tindak pidana di bidang perikanan yang dilakukan oleh pemerintah, pelaku usaha terus melakukan berbagai modus untuk mengelabui aparat penegak hukum agar tetap dapat melakukan penangkapan ikan. Dengan berkembangnya modus-modus tindak pidana di bidang perikanan di berbagai wilayah di Indonesia, upaya peningkatan kapasitas aparat penegak hukum bidang perikanan (capacity building) terus dikembangkan.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Polri dan Satgas 115 pada 3 Desember 2016 lalu telah menandatangani perjanjian kerja sama pembentukan International FishFORCE Academy of Indonesia (IFFAI) untuk menyelenggarakan pelatihan aparat penegak hukum di bidang perikanan.

Kali ini, KKP akan menyelenggarakan pelatihan IFFAI kedua pada tanggal 11-15 Desember 2017 di Jakarta dengan berfokus kepada peningkatan pengetahuan dan keterampilan Hakim dan Jaksa untuk menerapkan pendekatan multi rezim hukum dan pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap kejahatan perikanan dan kejahatan terkait perikanan lainnya pada tahap penuntutan dan penjatuhan putusan.

Penerapan pendekatan multi rezim hukum dan pertanggungjawaban pidana korporasi secara efektif diperlukan sehingga upaya penegakan hukum mampu menciptakan efek jera (deterrent effect) dan mengembalikan kerugian negara.

Adapun peserta yang terlibat pada pelatihan IFFAI kedua adalah 15 hakim dari Mahkamah Agung RI dan 15 jaksa dari Kejaksaan RI.

Inspektur Jenderal (Irjen) KKP Muhammad Yusuf mengatakan, pelatihan yang dilakukan pada kali ini untuk mengintegrasikan pemahaman yang sama antarlembaga. Sehingga dalam mengamalkan penegakan hukum di laut ada sinergi antara institusi terkait.

“Ini bukti nyata kami. Di sini satgas mengamalkan integrated criminal justice system. Karena sudah ada dua model ahli hukum, ada tiga pendapat, supaya tercipta spirit dan pemahaman yang sama. Sehingga tidak bolak balik. Yang paling penting supaya mereka tidak kembali merampok di sini. Kalau hakimnya sama ini kejahatan sama tugas satgas tidak lagi,” ujarnya dalam gelaran konferensi pers di Jakarta, Senin (11/12).

Adapun tujuan pelatihan IFFAI kedua, di antaranya meningkatkan pemahaman Hakim dan Jaksa mengenai pendekatan multi-rezim hukum (‘multi door’) dan pertanggungjawaban pidana korporasi (corporate criminal liability), meningkatkan keterampilan Jaksa dan Hakim dalam menerapkan pendekatan multi-rezim hukum dan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam praktik penanganan perkara tindak pidana di bidang perikanan, mendorong terciptanya kesepahaman (common perception) dalam menangani perkara tindak pidana di bidang perikanan, termasuk dalam menerapkan pendekatan multi rezim hukum dan pertanggungjawaban pidana korporasi.

Pelatihan FishFORCE Academy Indonesia akan dilakukan dalam bentuk kelas, dengan mengedepankan metodologi yang bersifat partisipatif, melalui tanya jawab/diskusi, studi kasus, dan simulasi kasus dalam kelompok untuk meningkatkan kemampuan analisis dan keterampilan praktis.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP Zulficar Mochtar mengatakan pelatihan pada kali ini merupakan yang kedua kalinya. Di mana sebelumnya ketiga instansi ini telah mengadakan pelatihan IFFAI di JCLEC, Semarang beberapa waktu yang lalu.

“Pelatihan di bidang perikanan International FishFORCE kali ini, merupakan kelanjutan dari pelatihan pertama. Kalau pelatihan pertama ke teknik penyelidikan. Kalau dalam pelatihan kedua ini kita lebih kepada peningkatan terhadap tindak pidana perikanan dan tindak pidana lain,” jelasnya. (MD)

About the author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.